Initial Date : Jakarta, 10 Maret 2016.

Revision Date : (1.1) 17 Maret 2016.

Revision Date : (1.2) 16 Juni 2016 (Removing device dll, tidak relevan).

Revision Date : (1.3) 24 Oktober 2016 (ngasih penjelasan dikit).

Sebenernya banyak cara untuk review, banyak metode yang digunakan, juga banyak test yang digunakan oleh orang lain dll, beberapa list dibawah adalah beberapa yang digunakan untuk review di RL2.com.

Review RL2 based on method mixed  with subjective, banyak yang bilang kalo masalah rasa itu subjective, dan tergantung dengan kit, whether coil, watt, mod, dan rda, but believe me THIS IS BULLSHIT.

Review masakan seperti Pak Bondan, entah kesurupan setan apa Anda bilang ke Pak Bondan kalo dia review beda sendok sama piring doang ama Anda, enggak bro enggak, review itu reviewernya harus tau tata letak suatu flavor dari apa yang direview, dimana itu middle note, bottom note, top note untuk suatu flavor, dan yang terpenting, HARUS PELAN PELAN.

Review buru buru kayak makan bubur masih panas, penjualnya bilang ada ketumbar di bumbu nya, Anda bilang ketumbar di bubur itu cuman mitos.

Terus kenapa ya, review di RL2 kayaknya enak, jelas dan bisa nemuin note ini itu? Padahal Anda pas beli kok enggak, malah enggak enak sama sekali liquid yang dapet point bagus di RL2.

Gini… e-liquid itu mesti di steeping, thats why eveeeeriibaddih call a e-juice maker itu brewer, bikin bir, bikin wine, butuh juga yang namanya aging, di e-liquid butuh juga aging, terkecuali SINGLE FLAVOR, di single flavor cuman butuh beberapa jam supaya flavor langsung keluar.

Di e-juice creamy enggak, banana support cookies, wah lama om, butuh di diemin, di anggurin, di kacangin, di read doang kadang kadang #eh, so makanya brewer pada pake tools buat nyepetin aging di e-juice, something like magnetic stirrer, ultrasonic steeping dll, yang bisa di liat di youtube aja sendiri.

NAH kita yang jadi laki laki beruntung karena di RL2, selalu dapet batch pertama yang well steeping, well noted, brewer udah yakin buat ngeluarin, brewer harus yakin bener itu e-liquid batch pertama udah bisa di pasarin di market, dan tentunya udah bisa di review di RL2, yang dimana RL2 gak akan ngeluarin review e-liquid yang gak jelas, kita jelasin nya gimana broh, kalo note nya semua tabrakan?

Sometimes di RL2 yang dapat point bagus, kita akuin memang demand jadi tinggi, market jadi penasaran, dan ini terkadang brewer lost of control, beberapa point mereka hilangkan, bahkan steeping di pikir nya bisa nanti aja pas pengiriman atau di toko. Yang akhirnyaaa liquid yang kita review bagus, malah jadi zonk, bukan salah kita dongs yang review jelas, dan kasih point bagus,  karena brewer yang lagi cari duit.. harus brewer yang pikirin itu.

Subjektif vs Metode Objektif.

Menurut buku American Statistician, bahwa Subjektif adalah penilaian tentang suatu hal berdasarkan ilmu yang dimiliki pelaku sebelumnya, sehingga sharing yang dilakukan pelaku Subjektif bersumber dari ilmu / pengetahuan / pengalaman pelaku, yang di olah kembali agar lebih objektif diterima si penerima.

Sementara Metode Objektif, mengesampingkan sumber ilmu pelaku dan lebih mengedepankan metode penelitian, review berdasarkan bukti metode, kenapa harus memakai metode ini? karena ada kemungkinan pendapat subjektif bisa saja salah, sehingga Metode Objektif didukung sumber Subjectif, di setiap point metode.

Sepertinya ribet, enggak kok, mendahulukan metode, di ikuti subjektifitas, karena dengan begini review akan jauh lebih adil.

Point Review.

Packaging.

Ini adalah point dimana penjelasan umum terkait packaging dari suatu produk, objektifnya adalah label, botol, dan kemasan yang digunakan harus sesuai dengan harga jual, misal : liquid lokal 200rb dengan tulisan tidak jelas, keterangan niko masih pake spidol, naked bottle, tidak segel, dapat nilai paling buruk dari Packaging.

  • Nilai 10 didapatkan apabila Packaging menggunakan double, misal box tambahan, tapi liquid didalamnya pun di segel, ini namanya Drop / Break Protection, kalau segel pada botol lebih kearah Value Protection, double packaging menambah nilai.
  • Nilai 9 didapatkan apabila Botol dalam keadaan double segel, contoh seperti Volt Liquid, ada segel di tutup botol, ditambahkan pula segel hot plastik diseluruh body.

1 Puff.

Penilaian yang seharusnya di nilai saat pertama kali Puff dari drip pertama, tapi ini enggak mutlak, karena dalam review liquid di RL2, setiap liquid baru harus dengan kapas baru, apabila rasa kapas masih ada di vapor, maka 1 Puff akan di ambil summary secara keseluruhan dari 1x drip pertama.

5 Puffs.

Nilai yang diambil dari Puffs vapor ke 5, disini biasanya beberapa rasa yang samar contohnya seperti custard dalam sweet cream TFA biasanya baru keliatan.

10 Puffs.

Ini adalah strength test dari 1x drip liquid est (1-2ml) yang di test adalah kekuatan VG dan PG, biasanya di point ini apabila PG tinggi maka nilai nya rendah, tapi enggak juga walau dengan sebaliknya yang pake high VG apabila concentrate enggak well blended, bisa juga liquid High VG kehilangan rasa di point ini.

Warm Vape.

Simple, summary rasa di Voltase dibawah sama dengan 4.0v.

Hot Vape.

Ya, kebalikan Warm Vape, summary dari review di atas sama dengan 4.1v.

15ml.

Point total keseluruhan, objektifitas keseluruhan rasa dari liquid, dari Point ini akan ditentukan beberapa aspek, seperti stabilitas niko, rasa, inhale dan exhale.

Disini ada beberapa request untuk nampilin bahwa liquid ini worth it apa enggak dengan harganya, tapi saya tegaskan gak akan ada point ini di review, karena berapapun harganya saat akan saya review, itu artinya saya mampu beli, biarlah point pada rating yang menghukum liquid “Vampir Ijo”.

Koil Gunk Test.

Sebenernya agak susah nentuin hasil test ini, karena parameternya dari liquid itu sendiri, walau review yang digunakan menggunakan scottish wicking sekali pun kalau liquid tersebut ada pemanis bakal gunk gunk juga.

Apa itu Gunk Test, Gunk test metodenya dengan stress test kapas dan koil hingga ke 10 – 15ml, atau dirasa cukup 4 – 7ml tanpa re-wicking. Parameter Gunk Test itu kerak pada koil, dan apabila liquid membuat kapas menjadi hitam, coklat, merah dll.

(1.1) Kenapa foto Koil Gunk Test selalu dalam keadaan basah? Ya betul, karena apabila di test hingga kapas kering / putih, maka ukuran testing adalah keputihan kapas, semua liquid akan sama hasilnya, karena apabila kapas kering akan kembali ke putih, jadi foto gunk test akan selalu ada liquid yang masih sisa di kapas, dan silahkan nilai sendiri.

(1.2) Fast Review

Kenapa ada metode fast review, biasanya karena liquid yang akan di review tidak sama sekali dapat diajak kerja sama, i.e DK – Butterscotch, sangat gunky bahkan di 3ml, membuat review sangat tidak dapat dinikmati, harus ganti wicking, bahkan di wicking ke dua kali harus ganti koil. Jadi faktor yang dapat mempengaruhi untuk Fast Review adalah :

  • Cost, sangat butuh biaya untuk me-review, seperti koil sangat gampang gunky, sehingga cost untuk membuat kapas dan koil ulang diperhitungkan.
  • Ada pertimbangan seperti diacetyl, AP, dll.
  • dan Masalah kesehatan lain.