Indo Liquid Enterprise – Pembawa Mimpi Liquid Indonesia Go International

Raynando Siagaian

Tanggal 3 Juni 2016 di Baxter Smith Kitchen & Tavern ada sebuah perayaan menandai lahirnya sebuah distributor besar Indo Liquid Enterprise (disingkat ILE)  yang merupakan gabungan dari 3 distributor industri vaping di Indonesia, yaitu Ray Vapor, Vaporsix dan Vaping Addict. Sebuah kongkalikong yang kami pandang harus menjadi sesuatu yang besar mengingat mereka merupakan pemain-pemain besar di industri vaping Indonesia.

Dalam sebuah kesempatan kami menemui Raynando Siagian, Direktur Utama dari ILE di Ray Vapor toko yang juga merupakan miliknya. Berpenampilan santai dan ramah senyum, pria ini memang merupakan salah satu orang berpengaruh di industri vaping Indonesia. Dari mulutnya mengalirlah impian yang merupakan visi dari terbentuknya ILE.

“Sejak tahun 2014 liquid-liquid asal Malaysia dan US mengalami perang harga, sementara liquid lokal lahir di awal 2015. Setahun kemudianlah ILE terbentuk untuk berusaha mengontrol harga supaya tidak terjadi perang harga yang bisa merusak pasar,” ujar Ray panggilan akrab dari pria ini.

“Cita-cita lain yang juga tak kalah besar adalah mengenalkan Liquid Indonesia ke wilayah internasional, bahwa liquid kita itu bagus dan enak,” tambahnya.

Sekitar 2 bulan lalu ILE memang membawa liquid yang berada di bawah naungan mereka ke sebuah Vape expo di Cina yang bernama Cecmol China Vape Expo 2016.

“Kita sudah membawa liquid lokal kita ke Cina dan Malaysia, dan jika Tuhan mengijinkan kami akan membawa liquid lokal ke Filipina di bulan September ini. Market Internasional sangat terkejut karena ternyata Indonesia sanggup membuat liquid seenak ini,” ujar pria kelahiran Jakarta ini.

“Indonesia memang termasuk negara yang tidak dipandang di kalangan dunia internasional, karena kita termasuk telat. Industri vaping indonesia baru bisa tumbuh tahun 2014 sementara Malaysia sudah memulainya sejak 2010. Jadi sangatlah wajar kalau mereka sendiri kaget dengan perkembangan liquid kita,” ucap sang direktur utama ILE ini.

Dengan selisih usia dari industri vaping Indonesia dan Malaysia ini memang masihlah sangat muda untuk dapat berharap Liquid Indonesia memiliki karakter yang kental.

“Liquid kita masih terpengaruh dengan liquid US dan liquid Malaysia, jadi jujur saja memang masih belum cukup untuk dibilang bahwa liquid kita sudah memiliki karakter yang khas Indonesia. Tapi perbedaannya dengan liquid US adalah liquid kita lebih manis, memiliki flavor yang lebih padat dan after taste yang lebih membekas,” tambahnya.

“Yang jelas menurut para distributor asal US liquid kita memiliki karakter yang padat dan manis yang pas, tapi memang tidak untuk daily vape vaper asal US. Tapi justru inilah yang menjadi kecintaan banyak vaper Indonesia,” tambah Ray lagi.

Dengan persoalan karakteristik ini artinya memang ILE perlu menetapkan standar buat liquid yang mereka edarkan. Sejauh ini ILE telah merangkul 9 orang brewer untuk bekerjasama dengan mereka demi mensupport persenjataan ILE itu sendiri.

“Kami banyak bekerjasama dengan para brewer untuk memajukan liquid lokal. Beberapa event yang kami selenggarakan sebenarnya demi mendorong produk dari para brewer ini. Kami selalu mengeker dan membidik beberapa even internasional supaya liquid-liquid yang dilahirkan dari para brewer ini bisa dikenal di negara-negara lain. Hanya saja kami belum cukup punya mimpi untuk mengeker Amerika, karena memang ongkos produksi liquid lokal masih terlalu tinggi untuk kita bisa merambah market sana, karena bahan-bahan kita masih kebanyakan impor dari sana,” tegasnya.

Dengan tumbuhnya liquid lokal yang sangat pesat di tahun 2016 ini memang harus dijaga bagaimana caranya supaya market tidak jenuh.

“Di Malaysia bisa setiap hari lahir brand baru, kalau di Indonesia mungkin baru sekitar 2 minggu sekali. Jadi kita masih dalam posisi aman untuk dibilang jenuh. Tapi memang tidak bisa dipungkiri rasa yang beredar hampir hanya itu-itu saja, itulah sebabnya kita juga berusaha untuk menciptakan rasa baru lewat 5 brand baru yang bisa memenuhi kebutuhan pasar yang mulai jenuh terhadap rasa yang sudah ada,” tandasnya.

“Yang jelas dengan keberadaan kami, kami berusaha untuk menjaga kestabilan pasar demi sehatnya industri ini. Perbedaan mendasar antara liquid yang kami distribusikan dengan yang tidak adalah bahwa kami akan selalu mendorong promosi dan branding dari liquid-liquid kami supaya memiliki daya jangkau yang baik. Kami juga mejaga bagaimana caranya tidak terjadi putus stok sehingga bisa terus menjaga keberadaan liquid tersebut di pasar,” papar pria yang selalu menyunggingkan senyum dalam setiap kesempatan.

Dengan sokongan dari orang-orang yang berpengalaman dan memiliki tekad kuat memajukan industri liquid lokal tentunya ILE bisa jadi sebuah benchmark bagi beberapa pemain di industri vaping Indonesia.

“Saya optimis dalam waktu setahun visi dan misi ILE akan bisa tercapai dalam waktu setahun kedepan”, tutupnya. (Eko_HC)

 

Bagaimana cara kami mereview lihat disini.

10 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *